Hai teman,
Tak seperti biasa aku pulang ke kampung halaman ku pagi-pagi sekali. Biasanya aku pulang ke kampung di malam hari. Mungkin jika di ingat-ingat ini adalah kali pertama aku pulang kampung di pagi-pagi buta. Tak seperti biasanya, jalanan di pagi buta terasa lenggang. Sejak aku berangkat mungkin jumlah kendaraan yang berpapasan dengan ku masih bisa dihitung dengan jari. Hawa dingin pun masih terasa menusuk kulit ku, yang sudah memakai 3 pakaian sekaligus. Baju dalam, baju kaos dan jaket ku rupanya masih bisa ditembus oleh udara-udara sejuk bercampur dingin di pagi hari.
Sampai di rumah, ibu ku yang selalu rajin bangun pagi, sudah sibuk di pekarangan rumah memulai aktivitas pertamanya sambil meminum kopi hangat. Ya , kala itu ibuku sedang menyapu halaman. Aktivitas ini memang sering dilakukannya seorang diri semenjak aku tinggal di kota. Di kanan kiri pekarangan rumah sudah terlihat beberapa tumpukan dedaunan. Dua pohon rambutan di pekarangan rumah ku yang cukup luas memang kadang membuat repot keluarga kami. Apalagi jika musim angin ribut mulai datang, banyak daun-daun yang berguguran di sana-sini. Pada musim itu setiap pagi ibu ku bisa mengumpulkan tiga keranjang dedaunan kering dari dua pohon rambutan ku.
Sampah ini biasanya aku buang di kebun belakang rumah. “Hitung-hitung sebagai pupuk” begitu kata ibuku.Namun jika sudah musim angin ribut tiba, sampah-sampah dedaunan itu tidak lagi dibuang di kebun. pada musim-musim seperti itu sampah dedaunan jadi menumpuk di kebun dan kadang-kadang merusak pemandangan dan estetika. Nah, karena itu sampah-sampah itu kemudian dibakar.

Mungkin karena terlalu sering melihat daun-daun berguguran di musim angin ribut, aku kemudian menyebutnya dengan peristiwa "panen daun". Karena banyak sekali daun kering yang bisa aku kumpulkan saat musim itu. Walaupun sama-sama panen, tapi panen daun ini sangat berbeda dengan panen-panen pada umumnya, terutama dengan panen buah. Kalau panen buah kita bisa menikmati buahnya, bisa dimakan langsung, bisa di buat jus, bisa di buat es buah dan lain sebagainya. Tapi jika panen daun? Di olah bagaimana pun mungkin tidak akan ada yang mau mengonsumsinya, paling banter menjadi pupuk atau menjadi pengusir nyamuk ketika sampah ini dibakar. Dan parahnya lagi, jika dihitung-hitung panen daun ini selalu saja ada setiap hari, bahkan setiap jam ada saja daun yang jatuh dari dahannya, tapi kalau panen buah? Paling cepat 4-6 bulan sekali baru bisa dinikmati. "Aneh sekali" pikir ku, karena ada panen yang justru membuat si empunya menjadi sibuk dan tidak mendapatkan hasil sedikitpun.
Tapi pandangan itu menjadi berubah sejak isu global warming menjadi booming. Sebuah fakta bahwa sebenarnya panen daun yang sering membuat aku dan ibuk ku sibuk tidak keruan itu ternyata mempunyai manfaat yang sangat baik bukan saja bagi aku, ibuku . Tentu saja jika daun-daun ini tidak dibakar. Bahkan orang lain pun seharusnya telah mendapatkan hasil dari panen daun ku ini. Aneh memang , jika belum berpikir bahwa sebenarnya panen daun ku ini = panen karbon.
PANEN DAUN = PANEN KARBON
Nah, mari kita mulai pada kenyataan bahwa sebenarnya karbon merupakan salah satu unsur penting yang diperlukan tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang. Ternyata sebagian besar unsur karbon yang diperlukan tersebut diambil dari gas karbon dioksida di udara bebas. Karbon-karbon tersebut akan dipergunakan untuk menyusun jaringan-jaringan tanaman hingga membentuk daun , batang dan lain-lain. Dengan kata lain di dalam daun tadi sebenarnya banyak mengandung unsur karbon. Dengan berubahnya unsur karbon yang berada di dalam gas karbon dioksida menjadi karbon padat yang terkandung dalam daun, ternyata telah mengurangi gas-gas penyebab global warming khususnya karbon dioksida di udara. Jadi wajar, jika seharusnya panen daun ini hasilnya bisa dinikmati oleh semua orang.
Sangat disayangkan ketika jerih payah pohon-pohon mengurangi karbon di udara menjadi sia sia . Ini karena daun-daun tersebut dibakar.Perlakuan ini memang lebih praktis jika dibandingkan dengan menunggu daun-daun tersebut membusuk. Namun, tentu, hal ini berdampak buruk bagi lingkungan kita. Mungkin saja banyak orang yang sudah menyadari hal ini, tetapi belum banyak yang mau mengubah perilakunya.
Kini maukah kita sedikit menghargai jerih payah tumbuh-tumbuhan, dengan memanen karbon di sekitar kita dan mengolahnya dengan benar?