Minggu, 17 April 2011

Buanglah Sampah DEKAT Tempat Sampah






Hai teman,
Serigkali masalah tentang sampah menjadi ajang lempar- melempar tanggung-jawab. Memang sebenarnya kita sendiri sudah jenuh memikirkan tentang hal itu. Seringkali sampah itu dianggap sebagai sesuatu hal yang menjijikkan , kotor, sumber penyakit dan lain sebagainya. Namun jika kita telusuri ternyata sampah itu sebenarnya kita juga yang menghasilkan. Dan sewajarnya penanganan sampah tersebut tidak begitu saja diserahkan kepada pihak pengelola. Karena sebenarnya penanganan sampah tersebut merupakan tanggung-jawab kita juga sebagai produsen sampah. Pekerjaan mengolah sampah akan menjadi sangat berat jika tidak ada partisipasi dari masyarakat.

Mungkin ini adalah bukti kalau masyarakat kita kurang peduli terhadap penanganan sampah. Hal aneh ini aku temui ketika aku sedang dalam perjalanan pulang. Sebuah tempat sampah yang tampak tidak penuh dan di salah satu sisinya terdapat tumpukan sampah. Hal ini sungguh menggelitik hati saya. Apakah yang sebenarnya membuat orang-orang di lingkungan ini sampai tidak mau membuang sampahnya ke dalam bak tersebut? Apakah tembok bak tersebut terlalu tinggi sehingga orang-orang menjadi sukar untuk membuang sampah? Atau ada masalah lainnya?








Kamis, 14 April 2011

PANEN KARBON




Hai teman,
Tak seperti biasa aku pulang ke kampung halaman ku pagi-pagi sekali. Biasanya aku pulang ke kampung di malam hari. Mungkin jika di ingat-ingat ini adalah kali pertama aku pulang kampung di pagi-pagi buta. Tak seperti biasanya, jalanan di pagi buta terasa lenggang. Sejak aku berangkat mungkin jumlah kendaraan yang berpapasan dengan ku masih bisa dihitung dengan jari. Hawa dingin pun masih terasa menusuk kulit ku, yang sudah memakai 3 pakaian sekaligus. Baju dalam, baju kaos dan jaket ku rupanya masih bisa ditembus oleh udara-udara sejuk bercampur dingin di pagi hari.

Sampai di rumah, ibu ku yang selalu rajin bangun pagi, sudah sibuk di pekarangan rumah memulai  aktivitas pertamanya sambil meminum kopi hangat. Ya , kala itu ibuku sedang menyapu halaman. Aktivitas ini memang sering dilakukannya seorang diri semenjak aku tinggal di kota. Di kanan kiri pekarangan rumah sudah terlihat beberapa tumpukan dedaunan. Dua pohon rambutan di pekarangan rumah ku yang cukup luas memang kadang membuat repot keluarga kami. Apalagi jika musim angin ribut mulai datang, banyak daun-daun yang berguguran di sana-sini. Pada musim itu setiap pagi ibu ku bisa mengumpulkan tiga keranjang dedaunan kering dari dua pohon rambutan ku.

Sampah ini biasanya aku buang di kebun belakang rumah. “Hitung-hitung sebagai pupuk” begitu kata ibuku.Namun jika sudah musim angin ribut tiba, sampah-sampah dedaunan itu tidak lagi dibuang di kebun. pada musim-musim seperti itu sampah dedaunan jadi menumpuk di kebun dan kadang-kadang merusak pemandangan dan estetika. Nah, karena itu sampah-sampah itu kemudian dibakar. 

 

Mungkin karena terlalu sering melihat daun-daun berguguran di musim angin ribut, aku kemudian menyebutnya dengan peristiwa "panen daun". Karena banyak sekali daun kering yang bisa aku kumpulkan saat musim itu. Walaupun sama-sama panen, tapi panen daun ini sangat berbeda dengan panen-panen pada umumnya, terutama dengan panen buah. Kalau panen buah kita bisa menikmati buahnya, bisa dimakan langsung, bisa di buat jus, bisa di buat es buah dan lain sebagainya. Tapi jika panen daun? Di olah bagaimana pun mungkin tidak akan ada yang mau mengonsumsinya, paling banter menjadi pupuk atau menjadi pengusir nyamuk ketika sampah ini dibakar. Dan parahnya lagi, jika dihitung-hitung panen daun ini selalu saja ada setiap hari, bahkan setiap jam ada saja daun yang jatuh dari dahannya, tapi kalau panen buah? Paling cepat 4-6 bulan sekali baru bisa dinikmati. "Aneh sekali" pikir ku, karena ada panen yang justru membuat si empunya menjadi sibuk dan tidak mendapatkan hasil sedikitpun. 

Tapi pandangan itu menjadi berubah sejak isu global warming menjadi booming. Sebuah fakta bahwa sebenarnya panen daun yang sering membuat aku dan ibuk ku sibuk tidak keruan itu ternyata mempunyai manfaat yang sangat baik bukan saja bagi aku, ibuku . Tentu saja jika daun-daun ini tidak dibakar. Bahkan orang lain pun seharusnya telah mendapatkan hasil dari panen daun ku ini. Aneh memang , jika belum berpikir bahwa sebenarnya panen daun ku ini = panen karbon.

PANEN DAUN = PANEN KARBON

Nah, mari kita mulai pada kenyataan bahwa sebenarnya karbon merupakan salah satu unsur penting yang diperlukan tumbuhan untuk tumbuh dan berkembang. Ternyata sebagian besar unsur karbon yang diperlukan tersebut diambil dari gas karbon dioksida di udara bebas. Karbon-karbon tersebut akan dipergunakan untuk menyusun jaringan-jaringan tanaman hingga membentuk daun , batang dan lain-lain. Dengan kata lain di dalam daun tadi sebenarnya banyak mengandung unsur karbon. Dengan berubahnya unsur karbon yang berada di dalam gas karbon dioksida menjadi karbon padat yang terkandung dalam daun, ternyata telah mengurangi  gas-gas penyebab global warming khususnya karbon dioksida di udara. Jadi wajar, jika seharusnya panen daun ini hasilnya bisa dinikmati oleh semua orang.

Sangat disayangkan ketika jerih payah pohon-pohon mengurangi karbon di udara menjadi sia sia . Ini karena daun-daun tersebut dibakar.Perlakuan ini memang lebih praktis jika dibandingkan dengan menunggu daun-daun tersebut membusuk. Namun, tentu, hal ini berdampak buruk bagi lingkungan kita. Mungkin saja banyak orang yang sudah menyadari hal ini, tetapi belum banyak yang mau mengubah perilakunya.

Kini maukah kita sedikit menghargai jerih payah tumbuh-tumbuhan, dengan memanen karbon di sekitar kita dan mengolahnya dengan benar?

Rabu, 13 April 2011

Mereka yang Bertahan dalam Keterbatasan




 Hai teman,
Namanya hidup pasti ada suka dukanya. Banyak hal yang bisa membuat kita senang, namun tidak sedikit pula yang membuat kita sedih. Ada saja hal-hal yang membuat kita merasakan dua hal tersebut. Tak jarang kita menjadi senang bukan kepalang, bahkan sampai dapat membuat kita berteriak kegirangan karena sesuatu hal. Tapi banyak juga hal-hal yang membuat kita menjadi terdiam lesu, tak bersemangat dan bahkan menangis karenanya.

Nah, terkait dengan kesedihan yang lumayan sering kita rasakan, banyak dari kita yang menjadi putus asa. Memang, ini lumbrah terjadi pada kita, tapi bila yang namanya putus asa ini terlalu lama singgah di dalam diri kita bisa berpengaruh buruk kepada kita dan orang-orang terdekat kita. Menjadi malas untuk melakukan sesuatu, pesimis akan pilihan yang kita pilih merupakan sedikit contoh efek-efek negatif yang sering muncul saat kita menjadi putus asa. Intinya putus asa yang terlalu lama dapat membuat kita tidak produktif.

Namun percayakah teman-teman bahwa sebenarnya hidup itu sebenarnya adalah perjuangan? Dan banyak sekali yang sebenarnya bernasib lebih buruk di antara kita? 





Teori ini terbukti ketika aku memperhatikan sebuah tanaman berjenis paku-pakuan (Pteridophyta) di depan kamar kost ku. Tumbuh di dasar lantai keramik, dengan akar hanya mencengkram debu-debu sisa  sapuan anak kost. Setiap hari terpapar panas dan hujan. Setiap hari dilewati oleh lalu-lalang anak-anak kost tanpa ada yang memperdulikan apakah ia tumbuh dengan subur atau tidak. Diinjak-injak mungkin juga sudah menjadi agenda yang biasa dilewati oleh tumbuhan ini.  Mungkin peribahasa yang cocok untuk menggambarkan  keadaan tumbuhan itu adalah "bagai karakap tumbuh di batu" alias mati segan hidup tak mau. Adakah  keadaan yang lebih mengenaskan dari pada tumbuhan ini ? Sungguh mengenaskan..

Namun biarpun begitu, setiap minggunya ada saja daun-daun baru yang menjuntai dari batangnya yang terbenam dalam lubang-lubang kosong di lantai kost maupun di antara pipa-pipa ledeng. Saat kekeringan daun-daun tuanya mulai kering dan meranggas, namun tunas-tunas muda daunnya tetap muncul. Mungkin tanaman ini hanya memiliki satu  motto dalam hidupnya "terus hidup dan berkembang". Sebuah kenyataan yang patut kita renungkan bahwa sebenarnya tanaman sekecil ini pun tetap semangat dalam keterbatasan hidupnya. walaupun dalam kehidupannya senantiasa kekurangan suplai makanan dan kadang kekeringan dan kepanasan.

Mungkin, ini contoh yang baik untuk kita ketika kita menghadapi suatu masalah yang terkadang kita anggap sulit. Lihatlah mereka yang bertahan dalam keterbatasan dan kita akan tahu apakah kita sudah cukup pantas menyerah pada cobaan yang menghampiri kita.

Selasa, 12 April 2011

Warisan Budaya Indonesia

 Kira-kira apakah yang teman-teman pikirkan jika melihat gambar di atas ?

 Hai teman,
Mungkin yang terlintas di pikiran kira pertama kali saat melihat gambar di atas adalah sebuah pegelaran seni yang dipimpin oleh seorang dalang yang biasa di pentaskan di malam hari. Pegelaran yang banyak menampilkan kelincahan tangan seorang dalang dipadukan dengan gamelan-gamelan tradisional dan kidung-kidung kuno. Mungkin saja kita langsung terlintas dengan kisah Mahabarata atau Ramayana.Ya, itulah kesenian wayang.  Kita patut bangga dengan kesenian yang kita miliki ini. Selain kesenian ini merupakan kesenian asli Indonesia yang telah diturunkan secara turun-temurun wayang juga telah menjadi warisan budaya dunia sejak Novenber 2003.  

Kesenian ini juga merupakan salah satu bukti sejarah budaya di Indonesia, dimana jika ditelusuri budaya jawa kuno memiliki keterkaitan dengan budaya Bali. Banyak sekali tokoh-tokoh dalam pegelaran ini, tergantung pada cerita apa yang akan ditampilkan dalam pegelaran tersebut. Misalnya saja panca pandawa(Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sahadewa) ada dalam cerita Mahabarata, sedangkan Rahwana, Rama dam Shita yang ada dalam cerita Ramayana.Sebagai karya seni yang sangat berharga, wayang juga merupakan media penyampaian pesan yang baik bagi masyarakat. Cerita-cerita pewayangan yang banyak mengandung pesan-pesan moral dan petuah-petuah sangat digemari oleh masyarakat Indonesia. 

Namun seiring dengan kemajuan teknologi, kenesian-kesenian tradisional mulai ditinggalkan oleh masyarakat,  begitu juga dengan kesenian wayang. Lama-kelamaan kegemaran masyarakat untuk menyaksikan pegelaran seni ini agaknya mulai berkurang. Banyak dari kita yang mulai tidak mengenal kesenian ini. Agaknya kesenian tradisional sekarang tidak dapat mengambil hati para kaum muda, sehingga peminat kesenian tradisional tinggalah kaum lanjut usia. Kaum muda kini lebih tertarik pada kesenian-kesenian modern dan sedikit-demi sedikit melupakan kesenian tradisional. Yang paling parah adalah penerus dari kesenian ini mulai berkurang. Satu-persatu keturunan-keturunan dari keluarga dalang pun  berganti profesi. Pegelaran wayang pun kini menjadi pemandangan yang langka, bahkan di desa-desa sekali pun. Dan pada akhirnya penghargaan terhadap kesenian ini juga menurun, sebagai salah satu warisan budaya dunia yang harus kita lestarikan hal ini merupakan hal yang sangat menghawatirkan.  

 Bangsa yang besar merupakan bangsa yang menghormati sejarah dan budayanya sendiri
. Kini, eksistensi dari kesenian ini tergantung pada kita sebagai generasi muda. Apakah kita dapat menghargai serta melestarikannya?